Rabu, 17 Desember 2008

Berapa Lama KIta di Kubur

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di
atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yang
kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan Kanannya memegang Es krim
sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, Sementara tangan
kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.
Yani Dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, Berputar sejenak
ke kanan & kemudian duduk di atas seonggok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad
19-10-1915 : 20-01-1965"
"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah
ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut
memejamkan mata Seperti Ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk
Neneknya...
"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah." Ayahnya mengangguk
sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya.
"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya yah..." Kata Yani berlagak
sambil matanya menerawang Dan Jarinya berhitung.
"Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... “ Yani memutar kepalanya,
memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . di samping kuburan neneknya
ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910"
"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun Yang lalu ya yah" jarinya
menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk.
Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.
"Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.
"Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan
kita banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka" kata Yani sambil meminta
persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"
Ayahnya tersenyum, "Lalu?"
"Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun
dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun
nenek senang di kubur .... Ya nggak yah?" Mata Yani berbinar karena bisa
menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas
..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya,
memikirkan apa yang dikatakan Anaknya... 42 tahun hingga sekarang... kalau
kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa .. Atau bahagia dikubur
.... Lalu ia menunduk ... Meneteskan air mata
...

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat Masih 1000 tahun
lagi berarti ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi WA inna ilaihi
rooji'un ... Air matanya semakin banyak menetes, Sanggupkah ia selama itu
disiksa? Iya kalau kiamat 1000
tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia
akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi?
Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia
sudah tak tahan?

Ya Allah... ia semakin menunduk tangannya terangkat keatas bahunya naik
turun tak teratur.... Air matanya semakin membanjiri jenggotnya “Allahumma
as aluka khusnul khootimah†berulang kali di bacanya DOA itu hingga suaranya
serak ... Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu dibetulkannya
selimutnya. Yani terus tertidur...tanpa tahu, betapa sang bapak sangat
berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan...
Dan apa yang akan datang di depannya...

"Yaa Allah, letakanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakan dihatiku..."

Sebarkan e-mail ini ke saudara-saudara Kita, mudah-mudahan bermanfaat.. .

Teman

Buat aku teman adalah segala-galanya............